Learning & Development: Pengertian, Fungsi, Proses, Strategi, dan Contohnya di Perusahaan

Learning & Development

Jika Anda ingin menguasai proses Learning & Development secara end-to-end, mulai dari Training Needs Analysis (TNA), learning design, penyusunan program pelatihan, hingga evaluasi menggunakan Kirkpatrick, Talentiv menyediakan program Learning & Development Professional Training yang dirancang berbasis praktik. Program ini dapat menjadi pilihan bagi HR maupun profesional yang ingin membangun kompetensi L&D secara lebih terstruktur. Pelajari Program Learning & Development Talentiv

Learning & Development menjadi salah satu fungsi penting dalam pengelolaan sumber daya manusia karena perusahaan tidak cukup hanya merekrut karyawan yang kompeten. Organisasi juga perlu memastikan kompetensi tersebut terus berkembang mengikuti perubahan strategi bisnis, teknologi, kebutuhan pelanggan, dan tuntutan pekerjaan. Karena itu, L&D tidak seharusnya dipandang hanya sebagai bagian yang mengurus jadwal training, mencari trainer, atau mengirim undangan kepada peserta.

Dalam praktiknya, fungsi ini memiliki cakupan yang jauh lebih luas. L&D berhubungan dengan proses mengidentifikasi kebutuhan kompetensi, menemukan kesenjangan kemampuan, merancang pengalaman belajar, menjalankan program pengembangan, memastikan pembelajaran diterapkan di tempat kerja, hingga mengukur apakah investasi pengembangan tersebut benar-benar memberikan dampak terhadap kinerja.

Artikel ini membahas Learning & Development secara menyeluruh, mulai dari pengertian, fungsi, tugas, proses kerja, Training Needs Analysis, learning design, metode pembelajaran, evaluasi, teknologi, AI, career path, hingga contoh penerapannya di perusahaan.

Apa Itu Learning & Development?

Learning & Development adalah fungsi yang berfokus pada pengembangan pengetahuan, keterampilan, kompetensi, perilaku, dan kemampuan karyawan agar dapat menjalankan pekerjaannya dengan lebih efektif sekaligus mempersiapkan kebutuhan organisasi di masa depan.

Dalam konteks Human Resources, L&D merupakan bagian dari pengembangan manusia yang menghubungkan kebutuhan bisnis dengan kemampuan karyawan. Artinya, program pembelajaran seharusnya tidak dibuat hanya karena perusahaan ingin mengadakan training, tetapi karena terdapat kebutuhan atau tujuan tertentu yang ingin dicapai.

Misalnya, perusahaan menemukan bahwa performa supervisor baru belum sesuai harapan. L&D tidak seharusnya langsung menyimpulkan bahwa semua supervisor membutuhkan pelatihan leadership. Tim L&D perlu terlebih dahulu mencari tahu penyebab masalah tersebut.

Apakah mereka belum memahami kompetensi leadership? Apakah mereka belum memiliki pengalaman memimpin? Apakah target kerja tidak jelas? Apakah atasannya tidak memberikan feedback? Atau apakah sebenarnya masalah berasal dari sistem kerja?

Pertanyaan seperti ini penting karena tidak semua performance gap dapat diselesaikan melalui training.

Perbedaan Learning dan Development

Meskipun sering digunakan secara bersamaan, learning dan development memiliki penekanan yang berbeda.

Learning lebih berhubungan dengan proses memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau pemahaman baru.

Sementara itu, development memiliki cakupan lebih panjang karena berkaitan dengan pertumbuhan kemampuan seseorang untuk menjalankan tanggung jawab yang lebih kompleks pada masa sekarang maupun masa depan.

Contohnya, seorang staf HR mempelajari cara melakukan TNA. Itu merupakan proses learning. Ketika kemampuan tersebut kemudian digunakan untuk merancang learning roadmap, mempresentasikan rekomendasi kepada manajemen, dan mengambil tanggung jawab sebagai L&D Specialist, proses tersebut sudah masuk ke area development.

Apakah L&D Hanya Mengurus Training?

Tidak.

Training memang merupakan salah satu bagian dari L&D, tetapi L&D memiliki cakupan yang lebih luas.

Aktivitasnya dapat meliputi:

  • Training
  • Coaching
  • Mentoring
  • On-the-Job Training
  • E-learning
  • Blended learning
  • Experiential learning
  • Career development
  • Leadership development
  • Upskilling
  • Reskilling
  • Learning culture
  • Learning analytics
  • Knowledge sharing
  • Individual Development Plan atau IDP

Dengan demikian, fokus L&D bukan sekadar “berapa banyak training yang dilakukan?”, melainkan “kompetensi apa yang perlu dikembangkan dan bagaimana pengembangan tersebut menghasilkan perubahan yang dibutuhkan organisasi?”

Mengapa Learning & Development Penting bagi Perusahaan?

Perubahan teknologi dan kebutuhan bisnis membuat kompetensi karyawan tidak bersifat permanen. Skill yang relevan hari ini dapat berubah dalam beberapa tahun ke depan. Karena itu, organisasi perlu membangun mekanisme yang memungkinkan karyawan terus belajar dan beradaptasi.

1. Mengurangi Competency Gap

Competency gap adalah kesenjangan antara kompetensi yang dibutuhkan dengan kompetensi yang dimiliki seseorang atau kelompok karyawan.

Misalnya, perusahaan membutuhkan supervisor yang mampu melakukan performance coaching. Namun, hasil assessment menunjukkan bahwa sebagian besar supervisor masih berfokus pada pemberian instruksi dan belum mampu memberikan feedback secara efektif.

Gap tersebut dapat menjadi dasar bagi L&D untuk merancang intervensi pengembangan yang sesuai.

2. Meningkatkan Produktivitas

Pengembangan kompetensi yang tepat dapat membantu karyawan bekerja lebih efektif.

Namun, hubungan antara training dan produktivitas tidak otomatis terjadi. Program harus relevan dengan pekerjaan, didukung oleh atasan, dan memberikan kesempatan kepada peserta untuk menerapkan pembelajaran.

3. Mendukung Business Goals

Program L&D yang strategis harus memiliki hubungan dengan tujuan perusahaan.

Contohnya:

  • perusahaan ingin meningkatkan penjualan → pengembangan sales competency;
  • perusahaan melakukan digital transformation → digital upskilling;
  • perusahaan membuka banyak cabang → leadership development;
  • perusahaan ingin meningkatkan kualitas layanan → customer service competency;
  • perusahaan sedang menyiapkan calon pemimpin → succession dan leadership development.

Dengan demikian, L&D tidak berjalan terpisah dari strategi perusahaan.

4. Meningkatkan Employee Engagement

Karyawan cenderung melihat peluang belajar dan berkembang sebagai salah satu bentuk dukungan organisasi terhadap karier mereka.

Program pengembangan yang jelas juga dapat membantu perusahaan membangun pengalaman kerja yang lebih baik.

5. Mendukung Employee Retention

Ketika karyawan memiliki kesempatan mengembangkan kompetensi dan melihat jalur karier yang jelas, organisasi memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan talent yang berkualitas.

6. Mempersiapkan Future Skills

L&D juga perlu melihat kebutuhan kompetensi masa depan.

Perkembangan AI, otomasi, digitalisasi, data, dan perubahan model bisnis membuat perusahaan harus mulai mempersiapkan skill sebelum gap tersebut menjadi masalah besar.

Apa Fungsi L&D dalam HR?

Fungsi L&D dapat dibagi ke dalam beberapa area utama.

Training & Development

Ini merupakan aktivitas paling umum. Program dirancang untuk meningkatkan kompetensi tertentu melalui metode pembelajaran yang sesuai.

Upskilling

Upskilling bertujuan meningkatkan kemampuan seseorang agar dapat menjalankan pekerjaannya dengan lebih baik atau menggunakan teknologi dan metode baru.

Reskilling

Reskilling berfokus pada pengembangan kompetensi baru agar seseorang dapat menjalankan pekerjaan atau peran yang berbeda.

Career Development

L&D dapat mendukung career development melalui career path, Individual Development Plan, mentoring, coaching, dan program pengembangan kompetensi.

Leadership Development

Program ini mempersiapkan karyawan untuk menjalankan tanggung jawab kepemimpinan.

Employee Development

Pengembangan tidak harus selalu berbentuk training formal. Pengalaman kerja, project assignment, coaching, mentoring, dan exposure terhadap pekerjaan baru juga dapat menjadi bagian dari employee development.

Learning Culture

L&D juga berperan menciptakan lingkungan yang mendorong karyawan untuk terus belajar.

Apa Saja Tugas L&D?

Tugas seorang profesional L&D sebenarnya cukup kompleks karena mereka terlibat dalam keseluruhan siklus pengembangan pembelajaran.

1. Memahami Business Needs

Langkah pertama bukan membuat training, melainkan memahami masalah bisnis.

L&D perlu berdiskusi dengan stakeholder untuk mengetahui target, tantangan, perubahan strategi, dan kebutuhan kompetensi.

2. Mengidentifikasi Competency Gap

Setelah kebutuhan bisnis dipahami, L&D mengidentifikasi kemampuan yang diperlukan dan membandingkannya dengan kondisi aktual.

3. Melakukan Training Needs Analysis

TNA digunakan untuk memahami apakah terdapat kebutuhan pelatihan dan apa bentuk intervensi yang tepat.

4. Menentukan Learning Objectives

Tujuan pembelajaran harus menjelaskan kemampuan apa yang diharapkan dimiliki peserta setelah mengikuti program.

5. Mendesain Program

L&D menentukan struktur program, materi, metode, durasi, trainer, media, aktivitas pembelajaran, dan evaluasi.

6. Menyusun Training Plan

Training plan membantu memastikan program memiliki jadwal, target peserta, metode, sumber daya, dan indikator keberhasilan yang jelas.

7. Menjalankan Program

L&D mengelola pelaksanaan program, mulai dari koordinasi peserta, trainer, venue, platform digital, materi, hingga administrasi.

8. Melakukan Evaluasi

Program harus dievaluasi untuk mengetahui apakah pembelajaran berjalan sesuai tujuan.

9. Mengukur Learning Transfer

Peserta mungkin memahami materi saat training, tetapi pertanyaan berikutnya adalah: apakah mereka benar-benar menerapkannya dalam pekerjaan?

10. Mengukur Business Impact

Tahap paling strategis adalah menghubungkan program dengan perubahan yang relevan terhadap bisnis.

Bagaimana Proses L&D di Perusahaan?

Learning & Development sebaiknya berjalan sebagai sebuah siklus, bukan aktivitas yang berdiri sendiri. Siklus tersebut dapat dimulai dari business needs, dilanjutkan dengan competency mapping, TNA, learning design, implementation, evaluation, dan akhirnya business impact.

Secara sederhana, alurnya adalah:

Business Goal → Competency Gap → TNA → Learning Objective → Learning Design → Learning Delivery → Application → Evaluation → Business Impact

Tahap 1: Identifikasi Business Needs

Tim L&D perlu memahami apa yang sedang ingin dicapai organisasi.

Contohnya, perusahaan memiliki target meningkatkan produktivitas tim sales sebesar 15%.

Pertanyaannya kemudian:

Kompetensi apa yang harus diperkuat agar target tersebut dapat dicapai?

Tahap 2: Competency Mapping

Setelah kebutuhan diketahui, L&D memetakan kompetensi yang dibutuhkan.

Pemetaan dapat mencakup:

  • technical competency;
  • behavioral competency;
  • leadership competency;
  • functional competency.
Tahap 3: Competency Gap

Kompetensi yang dibutuhkan kemudian dibandingkan dengan kemampuan aktual.

Contoh:

Required competency: mampu melakukan consultative selling.

Current competency: sales masih dominan menggunakan product pitching.

Gap: consultative selling.

Barulah kemudian L&D dapat mempertimbangkan intervensi yang sesuai.

Tahap 4: Training Needs Analysis

TNA membantu menentukan apakah gap tersebut memang dapat diselesaikan melalui training.

TNA umumnya dapat dilihat dari tiga level:

Organizational Analysis

Melihat kebutuhan dari perspektif organisasi.

Task Analysis

Menganalisis pekerjaan dan kompetensi yang diperlukan untuk menjalankan pekerjaan tersebut.

Person Analysis

Menganalisis siapa yang memiliki gap dan membutuhkan pengembangan.

Pendekatan tiga level tersebut juga banyak digunakan dalam literatur dan praktik TNA modern.

Tahap 5: Menentukan Learning Objective

Learning objective harus spesifik dan dapat diukur.

Contoh yang terlalu umum:

Peserta memahami leadership.

Contoh yang lebih baik:

Setelah program selesai, peserta mampu melakukan sesi coaching menggunakan struktur GROW dan memberikan feedback berbasis perilaku.

Tahap 6: Learning Design

Pada tahap ini, L&D menentukan bagaimana peserta akan belajar.

Komponen yang dapat dirancang antara lain:

  • learning journey;
  • learning content;
  • learning method;
  • learning activity;
  • assessment;
  • learning material;
  • facilitator;
  • timeline.
Tahap 7: Learning Delivery

Program kemudian dijalankan menggunakan metode yang sesuai.

Tahap 8: Learning Application

Peserta perlu mendapatkan kesempatan untuk menerapkan skill.

Contohnya:

  • project assignment;
  • workplace practice;
  • coaching session;
  • OJT;
  • simulation;
  • manager assignment.
Tahap 9: Evaluation

L&D mengukur apakah tujuan pembelajaran tercapai.

Tahap 10: Improvement

Hasil evaluasi digunakan untuk memperbaiki program berikutnya.

Bagaimana Cara Melakukan Training Needs Analysis?

Learning & Development yang efektif tidak langsung menerima setiap permintaan training sebagai solusi. Tim L&D perlu melakukan diagnosis untuk memastikan akar masalah dan menentukan intervensi yang tepat.

TNA bukan sekadar membuat survei “training apa yang Anda butuhkan?”. Prosesnya harus dimulai dari masalah, target, kompetensi, data kinerja, dan kondisi aktual.

Data yang Dapat Digunakan untuk TNA

L&D dapat menggunakan:

  • performance appraisal;
  • KPI;
  • competency assessment;
  • interview;
  • survey;
  • observation;
  • focus group discussion;
  • manager feedback;
  • customer feedback;
  • audit;
  • business performance data.
Contoh Sederhana

Perusahaan menemukan tingkat kesalahan input data meningkat.

Permintaan awal dari manajer:

“Tolong buat training Excel.”

Namun L&D perlu melakukan diagnosis.

Bisa jadi penyebabnya adalah:

  • karyawan belum menguasai Excel;
  • SOP tidak jelas;
  • template terlalu rumit;
  • workload terlalu tinggi;
  • sistem sering mengalami error;
  • tidak ada quality control.

Jika penyebabnya adalah template yang buruk, training Excel bukan solusi utama.

Karena itu, TNA harus mampu membedakan training problem dengan non-training problem.

Pendekatan seperti ini juga ditekankan dalam praktik TNA yang lebih modern, yang menempatkan diagnosis akar masalah sebelum menetapkan training sebagai solusi.

Bagaimana Cara Mendesain Program L&D?

Setelah kebutuhan teridentifikasi, L&D mulai masuk ke tahap desain.

1. Tentukan Target Peserta

Siapa yang mengikuti program?

Misalnya:

  • staff;
  • supervisor;
  • manager;
  • calon leader;
  • sales;
  • HR;
  • customer service.
2. Tentukan Kompetensi

Apa kompetensi yang harus dikembangkan?

3. Tentukan Learning Objective

Apa yang harus dapat dilakukan peserta setelah program?

4. Susun Learning Journey

Learning journey dapat menggambarkan pengalaman peserta dari sebelum, selama, hingga setelah program.

5. Tentukan Metode

Metode harus disesuaikan dengan kompetensi.

6. Susun Materi

Materi harus mendukung objective, bukan sekadar memasukkan sebanyak mungkin topik.

7. Tentukan Assessment

Assessment dapat digunakan untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, atau penerapan.

8. Susun Training Plan

Training plan biasanya mencakup:

  • topik;
  • objective;
  • peserta;
  • trainer;
  • metode;
  • durasi;
  • jadwal;
  • lokasi/platform;
  • kebutuhan materi;
  • evaluasi;
  • budget.

Prinsip desain training yang sistematis juga mencakup identifikasi objective, metode, media, konten, urutan pembelajaran, materi, dan alat evaluasi.

Metode L&D yang Digunakan Perusahaan

Tidak ada satu metode yang cocok untuk semua kebutuhan.

Classroom Training

Cocok untuk pembelajaran yang membutuhkan diskusi, simulasi, praktik, atau fasilitasi langsung.

E-Learning

Memberikan fleksibilitas waktu dan tempat.

Blended Learning

Menggabungkan pembelajaran online dan tatap muka.

On-the-Job Training

Peserta belajar langsung melalui pekerjaan.

Coaching

Berfokus pada peningkatan performa melalui proses tanya jawab, feedback, dan pengembangan kemampuan.

Mentoring

Biasanya melibatkan seseorang yang lebih berpengalaman untuk membantu pengembangan profesional individu.

Experiential Learning

Peserta belajar melalui pengalaman dan refleksi.

Social Learning

Pembelajaran terjadi melalui interaksi dengan orang lain, misalnya peer learning dan knowledge sharing.

Microlearning

Materi disajikan dalam unit yang singkat dan spesifik.

Project-Based Learning

Peserta belajar melalui pengerjaan proyek nyata.

Pemilihan metode harus kembali kepada learning objective. Program leadership, misalnya, mungkin membutuhkan kombinasi workshop, simulation, coaching, dan workplace assignment daripada hanya membaca modul.

Model 70:20:10 dalam L&D

Model 70:20:10 sering digunakan untuk menggambarkan bahwa pengembangan kompetensi tidak hanya berasal dari kelas formal.

Secara umum:

70% — Experiential Learning

Pembelajaran melalui pengalaman kerja, project, assignment, dan problem solving.

20% — Social Learning

Pembelajaran melalui coaching, mentoring, feedback, dan interaksi dengan orang lain.

10% — Formal Learning

Pembelajaran melalui training, workshop, seminar, atau e-learning.

Model ini dapat membantu L&D menghindari pendekatan yang terlalu berpusat pada classroom training.

Model yang Digunakan dalam L&D

ADDIE Model

ADDIE terdiri dari:

  • Analysis
  • Design
  • Development
  • Implementation
  • Evaluation

Model ini dapat digunakan untuk membantu menyusun proses pengembangan pembelajaran secara sistematis.

Kirkpatrick Model

Kirkpatrick memiliki empat level:

  1. Reaction
  2. Learning
  3. Behavior
  4. Results

Model ini membantu L&D melihat apakah program berhenti pada kepuasan peserta atau benar-benar menghasilkan perubahan.

Phillips ROI Model

Phillips menambahkan perspektif ROI untuk menghubungkan hasil program dengan nilai finansial.

Praktik evaluasi modern juga menggabungkan Kirkpatrick dengan Phillips ROI untuk mengukur efektivitas sekaligus dampak ekonomi dari program pembelajaran.

Bagaimana Cara Mengukur Keberhasilan L&D?

Learning & Development tidak dapat dinilai hanya dari jumlah training yang diselenggarakan atau jumlah peserta yang hadir. Pengukuran yang lebih kuat perlu melihat perubahan pengetahuan, perilaku, performa, dan dampak terhadap organisasi.

Level 1 — Reaction

Apakah peserta merasa program relevan dan bermanfaat?

Contoh indikator:

  • satisfaction;
  • relevance;
  • trainer effectiveness;
  • learning experience.
Level 2 — Learning

Apakah peserta benar-benar memperoleh pengetahuan atau keterampilan baru?

Metode:

  • pre-test;
  • post-test;
  • assessment;
  • simulation;
  • practical test.
Level 3 — Behavior

Apakah peserta menerapkan pembelajaran di tempat kerja?

Contoh:

Sebelum training, supervisor hanya memberikan instruksi.

Setelah training, supervisor mulai melakukan coaching secara rutin.

Level 4 — Results

Apakah terdapat perubahan pada hasil organisasi?

Misalnya:

  • produktivitas meningkat;
  • error rate menurun;
  • sales meningkat;
  • customer complaint menurun;
  • turnover menurun.
ROI

Jika memungkinkan, organisasi dapat menghubungkan manfaat finansial dengan biaya program.

Namun, tidak semua program harus dipaksakan menjadi angka finansial. Leadership development atau budaya belajar, misalnya, dapat membutuhkan indikator jangka menengah dan panjang.

Contoh Program L&D di Perusahaan

Berikut beberapa contoh sederhana.

MasalahIntervensiMetodeIndikator
Supervisor kurang mampu memberikan feedbackLeadership DevelopmentWorkshop + CoachingKualitas feedback
Sales conversion rendahSales DevelopmentTraining + Role PlayConversion rate
Banyak kesalahan administrasiSkill DevelopmentTraining + OJTError rate
Karyawan baru lambat beradaptasiOnboardingOJT + MentoringTime to productivity
Perusahaan menyiapkan calon leaderTalent DevelopmentIDP + CoachingReadiness level
Skill digital rendahDigital UpskillingE-learning + PracticeSkill assessment

Hal terpenting adalah program dibuat berdasarkan kebutuhan, bukan berdasarkan tren.

Bagaimana Membangun Learning Culture?

Learning culture berarti pembelajaran menjadi bagian dari cara organisasi bekerja, bukan hanya kegiatan tahunan.

1. Manager Menjadi Learning Enabler

Atasan harus memberikan ruang bagi karyawan untuk belajar dan mencoba.

2. Mendorong Knowledge Sharing

Karyawan dapat berbagi best practice melalui forum internal, komunitas, atau peer learning.

3. Menghubungkan Learning dengan Career

Karyawan perlu memahami bagaimana skill yang mereka kembangkan berhubungan dengan perkembangan karier.

4. Memberikan Kesempatan Praktik

Pembelajaran akan lebih bermakna jika karyawan mendapatkan kesempatan mengaplikasikan skill.

5. Menggunakan Feedback

Feedback membantu karyawan memahami area yang masih perlu dikembangkan.

Teknologi dalam L&D

Teknologi telah memperluas cara perusahaan mengelola pembelajaran.

Learning Management System

LMS dapat digunakan untuk:

  • menyimpan materi;
  • mengelola peserta;
  • membuat course;
  • memantau completion;
  • mengelola assessment;
  • membuat laporan.
Learning Experience Platform

LXP lebih berfokus pada pengalaman belajar dan personalisasi konten.

Learning Analytics

Data pembelajaran dapat membantu L&D memahami:

  • completion rate;
  • engagement;
  • assessment score;
  • learning activity;
  • learning behavior.
Digital Learning

Digital learning memungkinkan perusahaan menyediakan pembelajaran secara lebih fleksibel.

 

Peran AI dalam L&D

AI mulai membuka peluang baru dalam pengembangan pembelajaran.

Personalized Learning

AI dapat membantu merekomendasikan materi berdasarkan kebutuhan atau aktivitas belajar.

Content Development

AI dapat membantu membuat draft materi, quiz, scenario, atau learning content yang kemudian perlu direview manusia.

Learning Assistant

AI dapat digunakan sebagai pendamping belajar yang membantu peserta mendapatkan penjelasan atau latihan.

Assessment

AI dapat membantu menghasilkan variasi pertanyaan dan menganalisis data tertentu.

Learning Analytics

AI dapat membantu menemukan pola dari data pembelajaran.

Namun, AI bukan pengganti L&D professional. Kualitas program tetap membutuhkan diagnosis kebutuhan, pemahaman konteks organisasi, validasi materi, dan judgment manusia.

Perkembangan AI juga membawa tantangan desain pembelajaran baru karena penggunaan AI dapat memengaruhi bagaimana peserta memperoleh dan membangun skill.

Tantangan L&D di Perusahaan

Training Tidak Sesuai Kebutuhan

Masalah terjadi ketika training dibuat berdasarkan asumsi.

Rendahnya Dukungan Manager

Peserta mungkin sudah belajar, tetapi tidak mendapatkan kesempatan untuk menerapkan skill.

Learning Transfer Rendah

Pengetahuan tidak otomatis menjadi perilaku.

Sulit Mengukur Impact

Banyak organisasi berhenti pada level reaction atau learning.

Budget Terbatas

L&D harus mampu menentukan prioritas.

Perubahan Skill yang Cepat

Materi yang relevan hari ini belum tentu relevan beberapa tahun mendatang.

Terlalu Fokus pada Training

Ini merupakan salah satu masalah klasik.

L&D yang matang harus berani mengatakan:

“Training bukan solusi untuk semua masalah.”

Peran L&D dalam Strategi Bisnis

Learning & Development yang strategis tidak hanya bertanya “training apa yang diminta karyawan?”, tetapi “kemampuan apa yang dibutuhkan organisasi untuk mencapai target bisnis?”

Perubahan perspektif tersebut sangat penting.

Contohnya, perusahaan memiliki target membuka 20 cabang baru.

L&D dapat membantu dengan mengidentifikasi:

  • kebutuhan jumlah leader;
  • kompetensi store manager;
  • kemampuan operational management;
  • customer service competency;
  • onboarding framework;
  • succession pipeline.

Dengan demikian, L&D berkontribusi terhadap strategi ekspansi.

Dalam praktik profesional saat ini, pendekatan end-to-end juga semakin menekankan hubungan antara TNA, learning roadmap, dan evaluasi efektivitas menggunakan Kirkpatrick.

Struktur Posisi dalam Tim L&D

Beberapa posisi yang umum ditemukan antara lain:

L&D Staff

Biasanya menangani administrasi dan operasional program pembelajaran.

L&D Specialist

Lebih banyak terlibat dalam analisis kebutuhan, desain program, implementasi, dan evaluasi.

L&D Manager

Mengelola strategi, tim, budget, stakeholder, dan learning portfolio.

Learning Designer

Berfokus pada desain pengalaman dan materi pembelajaran.

Instructional Designer

Mengembangkan struktur pembelajaran berdasarkan prinsip instructional design.

Trainer atau Facilitator

Berfokus pada delivery dan fasilitasi pembelajaran.

L&D Business Partner

Menghubungkan kebutuhan bisnis dengan strategi pengembangan manusia.

Skill yang Dibutuhkan untuk Berkarier di L&D

Technical Skills

Profesional L&D idealnya memahami:

  • Training Needs Analysis;
  • competency mapping;
  • learning design;
  • curriculum development;
  • training plan;
  • learning methods;
  • training evaluation;
  • Kirkpatrick;
  • LMS;
  • learning analytics;
  • instructional design;
  • project management.
Soft Skills

Selain technical skills, L&D membutuhkan:

  • communication;
  • presentation;
  • facilitation;
  • analytical thinking;
  • problem solving;
  • stakeholder management;
  • collaboration;
  • business acumen.

Kemampuan memahami bisnis menjadi semakin penting karena L&D harus dapat menerjemahkan kebutuhan organisasi menjadi program pengembangan yang relevan.

Perbedaan L&D dengan Fungsi HR Lainnya

FungsiFokus UtamaContoh Aktivitas
HRPengelolaan SDM secara luasRecruitment, HR operation, employee relations
L&DPengembangan kompetensiTraining, TNA, coaching
Organization DevelopmentEfektivitas organisasiOrganization design, change, culture
Talent ManagementPengelolaan talentTalent mapping, succession
Instructional DesignDesain pembelajaranCurriculum, content, learning experience
L&D vs Training

Training merupakan salah satu bentuk intervensi yang digunakan L&D.

L&D vs Organization Development

L&D lebih berfokus pada learning dan development individu atau kelompok, sedangkan OD memiliki cakupan organisasi yang lebih luas.

L&D vs Talent Management

Talent management berfokus pada identifikasi, pengembangan, dan retensi talent, sedangkan L&D merupakan salah satu fungsi yang dapat mendukung talent strategy.

Tren L&D 2026

Learning & Development pada 2026 semakin bergerak dari fungsi penyelenggara training menjadi fungsi strategis yang berorientasi pada skills, business impact, teknologi, dan continuous learning.

Beberapa tren yang perlu diperhatikan adalah:

AI-Powered Learning

AI digunakan untuk personalisasi, content creation, assessment, dan learning assistance.

Upskilling dan Reskilling

Perusahaan perlu memperbarui kompetensi karyawan agar tetap relevan.

Skills-Based Development

Pengembangan semakin berorientasi pada skill yang dibutuhkan untuk pekerjaan, bukan hanya jabatan.

Personalized Learning

Karyawan dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.

Microlearning

Materi pendek semakin relevan untuk pembelajaran yang dapat diintegrasikan dengan aktivitas kerja.

Learning Analytics

Data digunakan untuk mengambil keputusan mengenai efektivitas learning.

Continuous Learning

Pembelajaran tidak lagi hanya dilakukan ketika perusahaan menyelenggarakan training.

Bagaimana Cara Memulai Karier di Bidang L&D?

Jika ingin masuk ke bidang ini, jangan hanya mempelajari teori HR.

Bangun kompetensi secara bertahap.

Langkah 1: Pahami Fundamental HR

Pahami bagaimana HR bekerja dan bagaimana kompetensi karyawan berhubungan dengan kebutuhan organisasi.

Langkah 2: Pelajari TNA

TNA merupakan salah satu kemampuan inti karena menjadi fondasi dalam menentukan kebutuhan pengembangan.

Langkah 3: Kuasai Learning Design

Pelajari bagaimana mengubah kebutuhan menjadi learning objective, curriculum, metode, dan program.

Langkah 4: Pelajari Training Evaluation

Pahami bagaimana mengukur reaction, learning, behavior, dan results.

Langkah 5: Pelajari Metode Pembelajaran

Pahami kapan menggunakan classroom training, OJT, coaching, mentoring, e-learning, blended learning, atau experiential learning.

Langkah 6: Bangun Portfolio

Portfolio dapat menunjukkan kemampuan secara konkret.

Rangkuman Talentiv

Learning & Development bukan sekadar aktivitas menyelenggarakan training bagi karyawan. L&D merupakan proses strategis yang menghubungkan kebutuhan bisnis, kompetensi, pembelajaran, pengembangan karyawan, dan hasil organisasi.

Proses yang baik dimulai dari memahami business needs, melakukan competency mapping, mengidentifikasi gap, menjalankan Training Needs Analysis, menentukan learning objective, mendesain program, memilih metode pembelajaran, menjalankan program, memastikan learning transfer, dan mengevaluasi dampaknya.

Profesional L&D juga perlu memahami bahwa tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan training. Kemampuan menganalisis akar masalah menjadi pembeda antara L&D yang hanya bersifat administratif dengan L&D yang mampu memberikan kontribusi strategis bagi perusahaan.

Di sisi lain, perkembangan AI, digital learning, learning analytics, upskilling, reskilling, dan skills-based development membuat kompetensi profesional L&D terus berkembang. Karena itu, karier di bidang ini membutuhkan kombinasi antara pemahaman HR, kemampuan analitis, learning design, facilitation, evaluasi, dan business acumen.

Jika Anda ingin mempelajari proses tersebut secara lebih praktis dan terstruktur, Talentiv menyediakan Learning & Development Professional Training dengan fokus pada kompetensi yang relevan untuk merancang dan mengelola program pembelajaran secara end-to-end. Lihat Learning & Development Professional Training Talentiv

Dengan membangun kemampuan mulai dari TNA hingga evaluasi dan menghasilkan portfolio yang konkret, Anda tidak hanya memahami konsep L&D, tetapi juga memiliki bekal untuk mengerjakan pekerjaan yang benar-benar dibutuhkan perusahaan.