Fresh Graduate Overconfident vs Underconfident: Dua Ekstrem yang Sama-Sama Berbahaya di Dunia Kerja

Fresh Graduate Overconfident vs Underconfident

Fresh Graduate Overconfident vs Underconfident bukan sekadar perbedaan tingkat percaya diri, tetapi dua pola mental yang bisa menentukan apakah seorang lulusan baru akan berkembang cepat atau justru terhambat di awal kariernya.

Di era dunia kerja 2026 yang semakin kompetitif, cepat berubah, dan penuh ekspektasi tinggi, kepercayaan diri menjadi aset penting. Namun masalahnya, banyak fresh graduate terjebak pada dua kutub ekstrem: terlalu percaya diri tanpa fondasi pengalaman yang cukup, atau terlalu ragu hingga tidak berani menunjukkan potensinya.

Artikel ini akan dibahas Talentiv secara mendalam:

  • Definisi dan ciri overconfidence serta underconfidence

  • Mengapa fenomena ini sering terjadi pada fresh graduate

  • Dampaknya terhadap performa kerja dan penilaian HR

  • Teori psikologi di baliknya

  • Framework membangun confidence yang sehat

  • Strategi praktis agar tidak terjebak di dua ekstrem tersebut

Mengapa Banyak Fresh Graduate Terjebak di Dua Ekstrem Ini?

Transisi dari dunia kampus ke dunia kerja adalah salah satu fase paling menantang dalam kehidupan profesional. Di kampus, sistem penilaian jelas: nilai, IPK, ranking, atau penghargaan akademik. Namun di dunia kerja, ukuran keberhasilan jauh lebih kompleks: kolaborasi, problem solving, adaptasi, komunikasi, dan konsistensi performa.

Perubahan standar inilah yang sering memicu dua respons ekstrem:

  1. Overconfident: merasa sudah siap karena nilai bagus atau aktif organisasi.

  2. Underconfident: merasa tidak cukup siap karena belum punya pengalaman nyata.

Fenomena ini semakin diperkuat oleh media sosial dan LinkedIn culture, di mana pencapaian orang lain terlihat sangat impresif. Sebagian fresh graduate merasa “harus terlihat sukses”, sementara sebagian lainnya merasa “tidak cukup baik”.

Inilah titik awal munculnya Fresh Graduate Overconfident vs Underconfident sebagai fenomena nyata di dunia kerja modern.

Apa Itu Overconfident pada Fresh Graduate?

Overconfidence bukan sekadar percaya diri. Overconfidence adalah keyakinan berlebihan yang tidak sebanding dengan kompetensi atau pengalaman nyata.

Ciri-Ciri Overconfident Fresh Graduate

  • Merasa cepat pantas promosi

  • Menganggap tugas dasar terlalu sederhana

  • Enggan menerima feedback

  • Berani bicara banyak, tapi minim eksekusi

  • Menganggap pengalaman organisasi setara pengalaman kerja profesional

Dalam beberapa kasus, overconfidence muncul karena efek Dunning-Kruger: seseorang dengan pengalaman minim cenderung melebih-lebihkan kemampuannya karena belum menyadari kompleksitas sebenarnya.

Dampak Overconfidence di Dunia Kerja

  1. Sulit dibimbing

  2. Kurang disukai tim karena terlihat arogan

  3. Mengambil risiko tanpa pertimbangan matang

  4. Gagal mengakui kesalahan

Dari perspektif HR, kandidat yang terlalu overconfident sering dianggap sebagai red flag, terutama jika terlihat defensif saat diberi feedback.

Apa Itu Underconfident pada Fresh Graduate?

Underconfidence adalah kebalikan dari overconfidence. Individu merasa kurang mampu meskipun sebenarnya memiliki potensi yang baik.

Ciri-Ciri Underconfident Fresh Graduate

  • Takut bertanya

  • Takut salah berlebihan

  • Tidak berani menyampaikan ide

  • Sering overthinking sebelum bertindak

  • Menghindari tanggung jawab tambahan

Banyak fresh graduate merasa insecure karena membandingkan dirinya dengan rekan kerja yang lebih senior. Padahal, fase belajar adalah hal wajar.

Dampak Underconfidence

  1. Terlihat pasif

  2. Kurang inisiatif

  3. Perkembangan lambat

  4. Mudah burnout karena tekanan internal

Dalam konteks Fresh Graduate Overconfident vs Underconfident, keduanya sama-sama berisiko. Satu terlalu maju tanpa kontrol, satu terlalu mundur tanpa mencoba.

Perspektif HR: Mana yang Lebih Berbahaya?

Dari sudut pandang HR, keduanya bisa menjadi masalah. Namun yang paling dicari bukanlah kandidat paling pintar atau paling percaya diri, melainkan kandidat dengan healthy confidence.

HR cenderung menyukai kandidat yang:

  • Sadar batas kemampuan

  • Mau belajar

  • Terbuka terhadap feedback

  • Konsisten dalam peningkatan diri

Dalam praktiknya, kandidat underconfident masih bisa dibimbing jika memiliki kemauan belajar tinggi. Sementara kandidat overconfident sering lebih sulit diarahkan jika tidak mau introspeksi.

Teori Psikologi di Balik Dua Ekstrem Ini

Beberapa konsep psikologi yang relevan:

1. Self-Esteem

Harga diri yang terlalu tinggi tanpa evaluasi realistis bisa memicu overconfidence. Harga diri terlalu rendah memicu underconfidence.

2. Self-Efficacy

Keyakinan terhadap kemampuan menyelesaikan tugas tertentu. Self-efficacy yang sehat didasarkan pada pengalaman nyata, bukan asumsi.

3. Fear of Failure

Rasa takut gagal yang berlebihan memicu underconfidence dan menghambat aksi.

4. Growth Mindset

Individu dengan growth mindset tidak terjebak pada label “pintar” atau “tidak pintar”, tetapi fokus pada perkembangan.

Dalam konteks Fresh Graduate Overconfident vs Underconfident, kuncinya ada pada keseimbangan antara self-awareness dan growth mindset.

Mengapa Gen Z Rentan Masuk Dua Ekstrem Ini?

Beberapa faktor:

  • Budaya validasi instan

  • Ekspektasi sukses cepat

  • Paparan self development berlebihan

  • Perbandingan sosial konstan

Banyak fresh graduate merasa harus langsung “jadi”, padahal karier adalah proses.

Studi Kasus Nyata

Kasus A – Overconfident

Seorang fresh graduate merasa sudah sangat siap karena aktif organisasi dan punya IPK tinggi. Dalam 2 bulan pertama kerja, ia sering mengoreksi seniornya secara terbuka tanpa memahami konteks. Akibatnya, relasi tim terganggu.

Kasus B – Underconfident

Fresh graduate lain memiliki skill teknis kuat, tetapi jarang berbicara dalam meeting. Ia takut salah dan akhirnya jarang terlihat kontribusinya. Evaluasi 6 bulan menunjukkan performa stagnan, bukan karena tidak mampu, tapi karena tidak terlihat.

Kedua contoh ini memperlihatkan realita Fresh Graduate Overconfident vs Underconfident di dunia kerja.

Framework Healthy Confidence untuk Fresh Graduate

1. Self-Awareness

Kenali kelebihan dan kekurangan secara objektif.

2. Feedback Friendly

Minta masukan secara rutin.

3. Skill-Based Confidence

Bangun percaya diri berdasarkan kompetensi nyata, bukan asumsi.

4. Growth-Oriented Thinking

Fokus pada progress, bukan pembuktian diri.

Cara Menghindari Dua Ekstrem Sejak Awal Karier

  1. Evaluasi diri mingguan

  2. Catat pencapaian kecil

  3. Berani bertanya

  4. Terima kesalahan sebagai proses

  5. Hindari perbandingan sosial berlebihan

Dengan pendekatan ini, fenomena Fresh Graduate Overconfident vs Underconfident bisa dikelola secara sehat.

Rangkuman Talentiv

Fresh Graduate Overconfident vs Underconfident adalah dua ekstrem yang sama-sama berbahaya jika tidak disadari dan dikendalikan. Dunia kerja tidak membutuhkan individu yang merasa paling benar atau paling tidak mampu. Dunia kerja membutuhkan individu yang sadar diri, mau belajar, dan terus berkembang.

Kepercayaan diri yang sehat bukan tentang merasa paling hebat, tetapi tentang berani belajar dan bertumbuh.

Jika Anda adalah fresh graduate, refleksikan: Anda sedang berada di sisi mana?